Gaji ayahku 15 j u t a perbulan, tapi kami malah disuruh ng3mis di jalanan.
***
Tak lama setelah Wati kembali dari kontrakan, aku langsung menghampirinya. Ia meletakkan tas plastik kosong di atas meja dan mengganti baju tanpa menatapku.
“Tadi nasi basi dan sayur sisa semalam ke mana?” tanyaku, menatapnya lekat.
Wati berhenti sejenak, lalu menjawab sambil menghela napas, “Udah aku buang, Mas. Kan kamu bilang tadi pagi baunya udah gak enak.”
Aku mengangguk pelan, menimbang-nimbang jawabannya. “Terus makanan buat anak-anak tadi disisihkan dari mana? Di meja tadi semuanya masih utuh.”
Wati tersenyum tipis. “Aku masak sedikit lebih pagi sebelum kamu bangun. Mungkin kamu gak lihat karena udah aku bungkus duluan. Aku juga nggak mau kamu ribet urusin itu.”
Jawabannya terdengar masuk akal… tapi entah kenapa perasaanku tetap tidak enak. Ada bagian dalam diriku yang merasa dibohongi.
“Ayo, Mas! Kita siap-siap. Anak-anak udah nungguin mau ke pantai!” Wati berseru riang, mencoba mengganti suasana.
Aku menatapnya. “Kamu tadi udah nyuruh Alina dan yang lain siap-siap?”
Wati mendadak gugup, tapi cepat menyembunyikannya dengan senyum. “Udah kok, Mas. Tapi mereka gak mau ikut.”
“Kenapa?” tanyaku, nadaku mulai berubah.
“Katanya Alina dan Fara mau ngerjain PR. Brian dan Cleo juga lagi senang mainin mainan baru mereka. Aku juga tadi bantuin mereka bersih-bersih. Duh, Mas… Alina dan Fara itu jorok banget kamarnya.”
Aku mengernyit. “Mereka gak mau ikut? Padahal biasanya Fara dan Cleo yang paling semangat kalau diajak ke pantai…”
Wati terlihat makin gelisah. “Mereka bilang gak suka pantai, Mas. Katanya panas, lengket, ribet.”
Aku memicingkan mata, mencoba membaca ekspresinya. Ada yang tidak beres. Fara dan Cleo… tak suka pantai? Dulu mereka bahkan tidur dengan baju renang karena terlalu excited.
“Aku sendiri yang akan ajak mereka. Masa iya gak mau? Paling juga mereka berubah pikiran kalau dengar kita udah siap jalan,” ucapku, mengambil kunci mobil.
Wati langsung berdiri dan meraih lenganku. “Mas… jangan maksa. Anak-anak gak mau. Lagipula aku udah janji ke Cika dan Fany hari ini mereka pengen punya waktu bareng dengan ayahnya. Gak enak kalau nanti malah ngambek karena rebutan perhatian sama anak-anakmu yang lain.”
Aku menatap wajah Wati yang kini tampak memohon. “Mas… anak-anak gak suka pantai. Gak perlu dibesar-besarkan. Kita jalan aja, ya? Sekali-kali berdua sama keluarga kecil kita.”
Aku terdiam.
Mungkin benar. Mungkin mereka memang sedang tidak ingin ikut. Mungkin aku terlalu paranoid.
Akhirnya aku mengangguk pelan. “Oke, kita jalan.”
Beberapa saat kemudian, mobil melaju ke arah luar kota. Di kursi belakang, Cika dan Fany tertawa riang sambil memeluk pelampung baru mereka. Wati menyetel musik ceria, tangannya menggenggam erat tanganku di tengah-tengah.
Namun, hatiku tetap terasa berat. Karena jauh di lubuk hati… aku rindu dengan keempat anakku.
*
Pantai hari itu cerah. Langit biru bersih, hanya dihiasi beberapa awan tipis. Angin laut menerpa wajahku dengan lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Cika dan Fany berlarian di pasir putih, tertawa-tawa sambil menyeret ember kecil dan sekop mainan.
“Yuk, Ayah bantuin bikin istana pasir!” teriak Cika sambil melambaikan tangan.
Aku tersenyum dan menuruti. Duduk di pasir, tanganku mulai membentuk gundukan, sementara Fany menaburkan kerang kecil di sekelilingnya. Wati duduk tak jauh dari kami, sesekali mengambil foto, tertawa melihat anak-anak berlumuran pasir.
“Hati-hati ombaknya!” seruku saat mereka mulai mendekati air.
Aku menggandeng mereka masing-masing, satu di kiri satu di kanan, kami bertiga berlari ke arah ombak, membiarkan kaki kami disapu air laut yang dingin. Cika menjerit geli, Fany tertawa tak berhenti.
Hari itu aku menikmati kebahagiaan sederhana yang utuh.
Tapi semua itu mulai luntur ketika aku menjauh sejenak. Aku berdiri di balik deretan pohon kelapa, menyalakan sebatang rokok, membiarkan pikiranku kosong menatap horizon. Mataku sesekali kembali ke arah Wati dan kedua anak tiriku yang kini sibuk mengubur kaki mereka di pasir.
“Fariz?” Sebuah suara memanggilku dari samping.
Aku menoleh. Seorang pria paruh baya mengenakan topi dan kacamata hitam tersenyum menyapaku. Aku mengenalnya—Pak Budi, rumahnya tak jauh dari komplek rumahku. Anaknya, Ifa, sekelas dengan Alina di SD.
“Lho, Pak Budi? Wah, kebetulan,” ucapku sambil menjabat tangannya.
“Ke sini sama siapa, Riz?” tanyanya sambil menengok ke arah Wati dan dua anak perempuan yang tertawa lepas.
“Sekeluarga,” jawabku ringan.
“Oh, keluarga baru ya?” tanya Pak Budi sambil tersenyum penuh makna. “Alina, Fara, Brian, dan Cleo nggak ikut?”
Aku mengangguk pelan. “Enggak, mereka gak mau. Katanya sibuk di rumah.”
Pak Budi diam sejenak, lalu menatapku agak serius. “Kalau boleh nanya, Riz… kenapa ya Alina dan Fara gak pernah kelihatan berangkat sekolah? Kalau Ifa berangkat pagi, mereka gak pernah kelihatan. Bahkan katanya guru wali kelas udah beberapa kali kirim surat panggilan.”
Aku membeku. Jantungku seakan berhenti berdetak sejenak.
“Apa maksud Bapak? Mereka gak pernah berangkat sekolah?” tanyaku pelan, nyaris tak percaya.
Pak Budi mengangguk pelan, raut wajahnya berubah khawatir. “Iya, saya pikir mungkin mereka pindah sekolah. Tapi Ifa bilang, nama mereka masih tercatat, cuma gak pernah hadir.”
Aku menatap ombak di kejauhan. Pikiran berputar cepat.
Selama ini aku selalu mengira semua baik-baik saja. Aku rutin transfer uang setiap bulan. Dua juta bahkan lebih untuk kebutuhan anak-anak. Bahkan terakhir kali Wati bilang, ia membelikan tas sekolah dan seragam baru untuk Alina dan Fara agar mereka semangat belajar.
Aku memercayainya. Sepenuhnya.
Tapi sekarang...
Apa yang sebenarnya terjadi di belakangku?
Aku tak menjawab lagi. Hanya mengangguk pelan kepada Pak Budi yang kemudian pamit.
Aku menatap kembali ke arah pasir, tempat Wati kini menggandeng Cika dan Fany menuju penjual es kelapa. Mereka tertawa, seolah dunia ini sempurna.
Anak-anakku, bagaimana nasib mereka?
Selengkapnya di KBM app ya.
Judul : Kami benci ayah
Karya : Nurudin Fereira
Atau bisa di cari di pencarian google, ketik aja (Kami Benci Ayah, KBM app, Nurudin Fereira)
